Jumat, 30 Maret 2012

PUISI

Daftar  puisi di bawah ini adalah Judul Puisi yang merupakan Puisi Wajib untuk Lomba Pembacaan Puisi maupun Puisi Pilihan. Silahkan Copy Paste!

 

  Puisi yang wajib dibaca: Pemberian Tahu
Puisi Pilihan (Pilih Salah Satu Untuk Dibaca):
1. Tentang Matahari
2. 100 Tahun dari Ibu Kathi
3. Potret Taman Untuk Allen Ginsberg
4. Tak Sepadan
5. Peringatan

 

PEMBERIAN TAHU


Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing-masing.
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak-kanak kembali,

Kita berpeluk ciuman tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!


1946


TAK SEPADAN



Aku kira:
Beginilah nanti jadinya
Kau kawin, beranak dan berbahagia
Sedang aku mengembara serupa Ahasveros.

Dikutuk-sumpahi Eros
Aku merangkaki dinding buta
Tak satu juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita padami
Unggunan api ini
Karena kau tidak 'kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka.

Februari 1943

Oleh: Chairil Anwar


TENTANG MATAHARI



Matahari yang di atas kepalamu itu
adalah balon gas yang terlepas dari tanganmu
waktu kau kecil, adalah bola lampu
yang ada di atas meja ketika kau menjawab surat-surat
yang teratur kau terima dari sebuah Alamat,
adalah jam weker yang berdering
saat kau bersetubuh, adalah gambar bulan
yang dituding anak kecil itu sambil berkata:
“Ini matahari! Ini matahari!” –
Matahari itu? Ia memang di atas sana
supaya selamanaya kau menghela
baying-bayangmu itu.

1971
Oleh: Sapardi Djoko Damono

PERINGATAN


Jika rakyat pergi
Ketika penguasa berpidato
Kita harus hati hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat sembunyi
Dan berbisik bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Oenguasa harus waspada dan belajar mendengar
Dan bila rakyat tidak berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversi dan menggangu keamanan
Maka hanya satu kata : lawan !
(Solo,1986)

Oleh: Wiji Thukul 


POTRET TAMAN UNTUK ALLEN GINSBERG

 

Ia menembak dari warna kulit saya
Dan berkata "Tuan pasti dari dunia ke 3"
Lalu ia, dari dunia pertama, mengunyah sarapan
Seraya mengutip Mao Tse-tung
Dan sebuah sajak gunung - ramah sekali

Bisakah ia tidur?
Sebelum anggur
Lalu mungkin mimpi
Di lindungan Malaikat Masehi?

Ia telah berjalan dalam angin
Dan mengucup es krim
Dan membca berita di halaman pertama
Tentang sebuah perang
Di Asia Tenggara

Ia kini duduk bersila
Di bangku taman KotaPraja
Mungkin semadi
Mungkin aku tidak mengerti
Karena ia berkata
"Di Vietnam tak ada orang mati
Tak ada Vietnam & orang tak mati"

Lalu ia mencari kepak burung
Ia mencari merpati
Ia mencari lambang
Ia mencari makna hari
Ia mencari seakan ia tau
Apa yang ingin ia temukan & tiba-tiba ia menuliskan:
"Revolusi, Revolusi, Tak bisa dipesan hari ini"
Lalu ia bangkit ia mual ia mencium
Bau biasa dari kakus umum;
Ia basah oleh tangis & ia meludah
"Kencingilah kaum Borjuis!"
Adakah ia Nabi?

Tuhan. Di taman ini orang juga ngelindur
Tentang perempuan berpupur
Dan sebuah mulut berahi kudengar memaki:
"Sialan, kenapa aku disini!"
Atau mungkin ia ngelindur tentang sebuah dusun
Yang hancur & sisa infrasi & mayat
Dan ulat & ruh & matahari?

Aku dengar seorang-orang tua
Yang kesal & lalu berkata:
"Di sekitar hari Natal, pernah terjadi hal yang tak masuk akal.
Misalnya mereka membom Hanoi sebelum (bukan sesudah) aku minum kopi."

1973

Oleh: Goenawan Mohamad



100 Tahun Dari Ibu Kathi

Di sebuah desa, dengan hutan-hutan kecil di Jegenstorf,
sebuah kantor pos, tumbuh bunga-bunga rumput dengan
nama sedih: Vergissmeinnicht – Jangan lupakan saya ...

Lalu ia memotret dengan tubuh tua gemetar, waktu yang
gemetar juga, dan tahu: Kami pernah bertemu 100 tahun
yang lalu. Kathi, Kathi yang lampau, gerimis merumuskan
tubuh kita kembali, di bawah cuaca dingin lukisan cat air
Albert Anker. Tetapi di lembah itu, tubuhmu jadi ham-
paran gandum terbakar. Udara telah jadi kota padat, Kathi.
Aku kunjungi juga menu berbagai bangsa, suku-suku tua
museum antropologi. Tapi tak kutemui juga kau di sana.
Dari 100 tahun, potret gemetar menyimpan orang-orang
diburu dalam tubuhku. Langit jadi putih masai, Kathi,
seperti hamparan waktu 100 tahun di lembah itu: Kita hanya
Membuat kata, pada sepi di luar sana.

Aku turuni lagi tangga-tangga lembah itu. Ketika aku
genggam, burung-burung beterbangan dari tangannya.
100 Tahun telah mengubah kita jadi sungai, Kathi. Lalu
aku bawakan selendang berenda, kebaya bersulam dari
Tenggara. Tetapi tanganmu tua gemetar, menyentuh bahu
100 tahun: Di lembah itu, di lembah itu ...vergissmeinnicht,
Kathi.

1993



Malna, Afrizal. 2009. Arsitektur Hujan. Yogyakarta: Omahsore.



0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More